Senin, 30 Januari 2017

Real Madrid Raih Trofi La Liga, Barcelona angkat trofi Copa Del Rey

Real Madrid dan Barcelona bisa dibilang adalah dua raksasa penguasa La Liga. Dua klub sepakbola paling populer di Spanyol ini seperti berbagi piala saja terhadap sejumlah piala kompetisi sepakbola di negeri Matador.
Jika Barca memperoleh gelar La Liga, maka Real Madrid beroleh Copa del Rey. Demikian pula sebaliknya. Bahkan, prestasi duo raksasa La Liga tersebut di kompetisi level Eropa juga tak kalah moncer dengan raihan prestasi di kompetisi lokal.e
Dalam sepuluh tahun terakhir misalnya, Barcelona dan Real Madrid merupakan klub sepakbola dari Spanyol yang meraih paling banyak trofi juara Liga Champion Eropa. Klub-klub sepakbola kelas atas lainnya di Eropa seakan tak bisa berbuat apa-apa dengan kedigdayaan Real Madrid dan Barcelona.
Di kompetisi 2016-2017 inipun, bagi-bagi jatah trofi juara kompetisi sepakbola kemungkinan menjadi milik Real Madrid dan Barcelona. Hingga setengah kompetisi La Liga, Madrid berada di urutan pertama untuk meraih trofi juara La Liga setelah unggul tipis satu ja dari Barcelona dan Sevilla plus masih memiliki kelebihan satu pertandingan ketimbang dua kompetitornya itu.
Sedang di kompetisi Copa del Rey, Barcelona berada di start pertama meraih juara tahun ini setelah berhasil melaju ke final untuk menghadapi Celta Vigo, penakluk musuh bebuyutan Barca (julukan Barcelona), Real Madrid di Semifinal.
Barca sendiriu maju ke final Copa del Rey setelah mengungguli Atletic Bilbao dalam dua laga semi final.
Drama-drama selalu hadir dalam setiap persaingan antara Real Madrid danBarcelona untuk menjadi nomer satu di persepakbolaan Spanyol. Badai cedera, gol hantu, kontroversi wasit hingga suratan takdir menjadi bumbu menarik yang muncul dari persaingan Real Madrid dan Barcelona tiap musimnya.
Suratan takdir itu berbentuk naik turunnya performa Real Madrid dan Barcelona pada setiap musim kompetisi. Jika Real Madrid sedang turun performanya, pada saat itulah penampilan Barca menanjak bagus.
Begitu pula sebaliknya. Jika performa sedang menurun, maka Real Madrid yang gantian berpenampilan nyaris sempurna dengan banyak memperoleh kemenangan-dengan Barca yang menangguk hasil seri-.
Diselingi satu dua kali kekalahan atau hasil seri melawan klub yang sering mendatangkan kesulitan bagi kedua klub yang memiliki basis penggemar sejagad yang sangat banyak tersebut. Misalnya saja hasil seri Barca dengan Real Betis di La Liga atau kekalahan Madrid  atas Celta Vigo di Copa del Rey.
Nah, hal yang membedakan Barca dan Real Madrid pada musim kompetisi tahun ini adalah kehadiran seorang Zinedine Zidane di kursi pelatih Real Madrid. Sebagai pemain bola legendaris yang menjadi inspirasi dan panutan banyak pemain bola, sosok Zidane sebagai pelatih di Real Madrid memang sangat mungkin menjadi salah satu faktor keberhasilan Real memiliki performa bagus di kompetisi La Liga dan Liga Champion Eropa.
Meski juga harus menerima suratan tangan sebagai manusia –yang bekerja sebagai pelatih pemain bola-yaitu harus menerima hasil buruk berupa kekalahan atau seri, Zidane dan anak asuhnya memiliki kans sangat besar untuk meraih trofi La Liga tahun ini setelah empat tahun lamanya puasa gelar tersebut.

Kecuali nasib jelek tiba-tiba menghampiri Zidane setelah Tuhan begitu baik hati memberi nasib baik Zidane dengan memberi gelar juara Champion tahun lalu saat menjadi “caretaker”, bolehlah diprediksi trofi La Liga musim ini untuk Los Merenges dan trofi Copa Del Rey musim ini untuk Azrulgrana. Mari kita lihat saja di akhir musim kompetisi nanti.

Jumat, 15 April 2016

Politik Konvensional v Politik 4.0 di Pilkada Jogja 2017

http://news.detik.com/berita/3189300/pilkada-serentak-di-diy-pan-ingin-bergandengan-dengan-pdip#

Kira-kira inilah lawan politik calon walikota dari Jogja Independent (Joint). Dari sisi suara (voters), jika PAN-PDIP jadi berkoalisi di Pilkada 2017, tentu paslon Walikota-Wakil Walikota dua partai ini akan didukung suara yang sangat banyak. PAN-PDIP bertarung di Pilkada kota Jogja tahun 2012 lalu yang dimenangkan PDIP dengan selisih suara sedikit dengan perolehan masing2 paslon yang cukup tinggi.
Jika parpol di Kota Jogja yang berbasis Islam ikut dua partai itu, yang akan terjadi adalah pertarungan nasionalis-agamis v calon independen di Pilkada Jogja 2017.
Jika pun tidak, hitung2annya adalah partai berbasis agama akan membuat koalisi terpisah sehingga punya calon Walikota-Wakil Walikota sendiri. Jadi pertarunganya adalah agamis v nasional v independen. Jadi agak bisa dibaca siapa yang akan menang di Pilkada Jogja 2017 melihat polarisasi ini.
Jika melihat kerja-kerja politik partai berbasis agama dan nasional selama ini yang kira-kira 11-12 alias politik konvensional, maka Pilkada Jogja 2017 adalah  pertarungan penganut politik konvensional v politik 4.0. Siapa yang menang? Di Bandung yang menang politik 4.0, juga di DKI Jakarta. Bagaimana kota Jogja? Apakah Garin Nugroho -kandidat terkuat calon walikota dan wakil walikota independen- akan menjadi Ridwan Kamilnya Jogja dalam konteks semangat politik 4.0 yang dimilkinya meski dengan praktek berbeda?. Patut disimak perkembangan selanjutnya