Real Madrid dan Barcelona bisa dibilang adalah dua raksasa
penguasa La Liga. Dua klub sepakbola paling populer di Spanyol ini seperti
berbagi piala saja terhadap sejumlah piala kompetisi sepakbola di negeri
Matador.
Jika Barca memperoleh gelar La Liga, maka Real Madrid
beroleh Copa del Rey. Demikian pula sebaliknya. Bahkan, prestasi duo raksasa La
Liga tersebut di kompetisi level Eropa juga tak kalah moncer dengan raihan
prestasi di kompetisi lokal.e
Dalam sepuluh tahun terakhir misalnya, Barcelona dan Real Madrid
merupakan klub sepakbola dari Spanyol yang meraih paling banyak trofi juara
Liga Champion Eropa. Klub-klub sepakbola kelas atas lainnya di Eropa seakan tak
bisa berbuat apa-apa dengan kedigdayaan Real Madrid dan Barcelona.
Di kompetisi 2016-2017 inipun, bagi-bagi jatah trofi juara
kompetisi sepakbola kemungkinan menjadi milik Real Madrid dan Barcelona. Hingga
setengah kompetisi La Liga, Madrid berada di urutan pertama untuk meraih trofi
juara La Liga setelah unggul tipis satu ja dari Barcelona dan Sevilla plus masih
memiliki kelebihan satu pertandingan ketimbang dua kompetitornya itu.
Sedang di kompetisi Copa del Rey, Barcelona berada di start
pertama meraih juara tahun ini setelah berhasil melaju ke final untuk menghadapi
Celta Vigo, penakluk musuh bebuyutan Barca (julukan Barcelona), Real Madrid di
Semifinal.
Barca sendiriu maju ke final Copa del Rey setelah
mengungguli Atletic Bilbao dalam dua laga semi final.
Drama-drama selalu hadir dalam setiap persaingan antara Real
Madrid danBarcelona untuk menjadi nomer satu di persepakbolaan Spanyol. Badai
cedera, gol hantu, kontroversi wasit hingga suratan takdir menjadi bumbu
menarik yang muncul dari persaingan Real Madrid dan Barcelona tiap musimnya.
Suratan takdir itu berbentuk naik turunnya performa Real
Madrid dan Barcelona pada setiap musim kompetisi. Jika Real Madrid sedang turun
performanya, pada saat itulah penampilan Barca menanjak bagus.
Begitu pula sebaliknya. Jika performa sedang menurun, maka
Real Madrid yang gantian berpenampilan nyaris sempurna dengan banyak memperoleh
kemenangan-dengan Barca yang menangguk hasil seri-.
Diselingi satu dua kali kekalahan atau hasil seri melawan
klub yang sering mendatangkan kesulitan bagi kedua klub yang memiliki basis
penggemar sejagad yang sangat banyak tersebut. Misalnya saja hasil seri Barca
dengan Real Betis di La Liga atau kekalahan Madrid atas Celta Vigo di Copa del Rey.
Nah, hal yang membedakan Barca dan Real Madrid pada musim
kompetisi tahun ini adalah kehadiran seorang Zinedine Zidane di kursi pelatih
Real Madrid. Sebagai pemain bola legendaris yang menjadi inspirasi dan panutan
banyak pemain bola, sosok Zidane sebagai pelatih di Real Madrid memang sangat
mungkin menjadi salah satu faktor keberhasilan Real memiliki performa bagus di
kompetisi La Liga dan Liga Champion Eropa.
Meski juga harus menerima suratan tangan sebagai manusia –yang
bekerja sebagai pelatih pemain bola-yaitu harus menerima hasil buruk berupa
kekalahan atau seri, Zidane dan anak asuhnya memiliki kans sangat besar untuk
meraih trofi La Liga tahun ini setelah empat tahun lamanya puasa gelar
tersebut.
Kecuali nasib jelek tiba-tiba menghampiri Zidane setelah
Tuhan begitu baik hati memberi nasib baik Zidane dengan memberi gelar juara Champion
tahun lalu saat menjadi “caretaker”, bolehlah diprediksi trofi La Liga musim
ini untuk Los Merenges dan trofi Copa Del Rey musim ini untuk Azrulgrana. Mari
kita lihat saja di akhir musim kompetisi nanti.