Jumat, 15 April 2016

Politik Konvensional v Politik 4.0 di Pilkada Jogja 2017

http://news.detik.com/berita/3189300/pilkada-serentak-di-diy-pan-ingin-bergandengan-dengan-pdip#

Kira-kira inilah lawan politik calon walikota dari Jogja Independent (Joint). Dari sisi suara (voters), jika PAN-PDIP jadi berkoalisi di Pilkada 2017, tentu paslon Walikota-Wakil Walikota dua partai ini akan didukung suara yang sangat banyak. PAN-PDIP bertarung di Pilkada kota Jogja tahun 2012 lalu yang dimenangkan PDIP dengan selisih suara sedikit dengan perolehan masing2 paslon yang cukup tinggi.
Jika parpol di Kota Jogja yang berbasis Islam ikut dua partai itu, yang akan terjadi adalah pertarungan nasionalis-agamis v calon independen di Pilkada Jogja 2017.
Jika pun tidak, hitung2annya adalah partai berbasis agama akan membuat koalisi terpisah sehingga punya calon Walikota-Wakil Walikota sendiri. Jadi pertarunganya adalah agamis v nasional v independen. Jadi agak bisa dibaca siapa yang akan menang di Pilkada Jogja 2017 melihat polarisasi ini.
Jika melihat kerja-kerja politik partai berbasis agama dan nasional selama ini yang kira-kira 11-12 alias politik konvensional, maka Pilkada Jogja 2017 adalah  pertarungan penganut politik konvensional v politik 4.0. Siapa yang menang? Di Bandung yang menang politik 4.0, juga di DKI Jakarta. Bagaimana kota Jogja? Apakah Garin Nugroho -kandidat terkuat calon walikota dan wakil walikota independen- akan menjadi Ridwan Kamilnya Jogja dalam konteks semangat politik 4.0 yang dimilkinya meski dengan praktek berbeda?. Patut disimak perkembangan selanjutnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar